MENUJU HAUL GURU TUA KE-51: Perjuangan Sang Guru Melawan Penjajah Hingga Menetap di Indonesia

  Thursday 20 June 2019   Winda Bestari     2735

PPID - morowalikab.go.id - Bungku - Habib Idrus atau yang lebih dikenal dengan Guru Tua merupakan tokoh pejuang dan tonggak islam di Indonesia Timur, khususnya Provinsi Sulawesi Tengah. Sepanjang hidupnya, ulama yang akrab disapa Guru Tua ini dikenal sebagai sosok ulama dan sastrawan yang cinta akan ilmu. Namun sebelum menginjakkan kaki di Indonesia, beliau ternyata menggalakkan perjuangan yang besar dalam melawan penjajah Inggris di tanah kelahirannya.

Guru Tua atau Habib Idrus mengawali perjalanannya ke Indonesia pertama kali saat berusia 17 tahun. Ayahnya, Habib salim membawanya berlayar ke Indonesia tepatnya di kota Manado untuk menemui ibunya Syarifah Nur AI-Jufri serta Habib Alwi dan Habib Syekh yang merupakan kedua saudara kandungnya yang telah terlebih dahulu hijrah ke Indonesia.

Setelah beberapa waktu di Indonesia, Habib ldrus dan ayahnya kembali ke Hadramaut. Setibanya di Hadramaut, Habib ldrus mengajar di Madrasah yang dipimpin oleh ayah beliau. Kemudian menikahi Syarifah Bahiyah dan dikaruniai tiga orang putra dan putri, yaitu Habib Salim, Habib Muhammad dan Syarifah Raguan.

Sejak tahun 1839 M, Hadramaut berada dalam penjajahan lnggris. Beliau bersama sahabatnya Habib Abdurrahman bin Ubaidillah As-Saqqaf, merupakan tokoh agama dan wakil dari para ulama lain yang memprakarsai perjuangan kemerdekaan. mereka mengutuk penjajah dan sekutunya yang menyebabkan suasana kacau dan berkembang di Hadramaut, khususnya wilayah Arab sebelah Utara secara menyeluruh. Keduanya, sebagai orang pertama yang bersepakat untuk menyalakan api perlawanan terhadap penjajah dan sekutunya.

Mereka berpendapat bahwa berhubungan dengan negara-negara Arab yang merdeka dan dunia luar adalah sesuatu yang amat penting untuk mengubah keadaan di dalam negeri sekaligus memerdekakan negara secara total. Dengan mengemban tugas politik yang sangat berbahaya itu, maka Habib Idrus menyusun suatu rencana untuk tujuan menjelaskan keadaan negerinya kepada masyarakat Arab dan dunia secara keseluruhan dengan cara keluar melalui pelabuhan Aden lalu ke Yaman dan Mesir. Beliau menyadari risiko itu mengancam jiwanya, karena intelijen negara dan mata-mata pemerintahan Inggris terus memperhatikan gerak-geriknya terhadap langkah yang akan ditempuhnya akan tetapi perjalanan itu harus dilakukan.

Rencana dan segala perlengkapan yang telah disiapkan dengan tepat dan matang serta penuh kehati-hatian tersebut, hampir membuahkan hasil jika tidak dibocorkan rahasianya oleh pengkhianat yang mengambil kesempatan untuk keuntungan pribadi. Beliau ditangkap tiba-tiba setelah sampai di pelabuhan Aden, kemudian dokumen-dokumen yang ada padanya dirampas serta mendapat larangan dari pemerintahan Inggris untuk keluar dari pelabuhan Aden untuk tujuan ke Negeri Arab. Akan tetapi diizinkan untuk kembali ke Hadramaut atau pergi ke Asia Tenggara, maka beliau memutuskan untuk pergi ke Indonesia. Sedangkan sahabatnya, Sayid Abdurrahman bin Ubaidillah Assagaf memilih kembali ke Mekkah.

Dalam buku Perguruan Islam Alkhairaat dari Masa ke Masa yang disusun oleh Pengurus Besar Alkhairaat disebutkan, bahwa Indonesia bukan negeri asing dan baru bagi Habib Idrus. Ia pertama kali datang ke negeri ini pada saat berumur kurang lebih 17 tahun bersama ayahnya dengan maksud mengunjungi sanak keluarga yang berada di Pulau Jawa dan Sulawesi seperti yang telah disebutkan di atas.

Kunjungan keduanya pada tahun 1922 berkaitan erat dengan sikap dan perlawanannya yang keras terhadap imprealisme Inggris di negerinya, pilihan ke Indonesia tidak hanya melepaskan kerinduannya dengan kampung halaman neneknya, tetapi sekaligus menetap dan berkiprah untuk umat Islam di Indonesia. (Sumber: islamicfinder.org Rayyan Ladanu (10 Agustus 2014), Mengenang Kembali Alhabib Idrus Bin Salim Al-Djufri "Guru Tua".

  •    Dibuat oleh Winda Bestari
  •   Dipublish oleh kary marunduh

Berita Terkait

optimalkan-penataan-ruang-wilayah-kawasan-morowali-pemkab-gelar-sosialisasi

Optimalkan Penataan Ruang Wilayah Kawasan Morowali, Pemkab Gelar Sosialisasi

Morowalikab.go.id -Bungku- Dalam Rangka Mengoptimalkan Penataan Ruang Wilayah Kawasan Morowali, Pemkab Menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2019 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Morowali Tahun 2019-2039 dan Peratu

bupati-dan-wabup-morowali-tinjau-langsung-lokasi-pascabanjir-di-desa-bahoruru-bungku-tengah

Bupati dan Wabup Morowali Tinjau Langsung Lokasi Pascabanjir di Desa Bahoruru Bungku Tengah

Morowalikab.go.id – Bungku -  Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf bersama Wakil Bupati Morowali, Iriane Iliyas, melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak banjir di Desa Bahoruru, Kecamatan Bungku Tengah, Senin (25/5/2026

bupati-morowali-buka-resmi-turnamen-vale-cup-2023

Bupati Morowali Buka Resmi Turnamen Vale Cup 2023

Morowalikab.go.id-Bungku- Bupati Morowali Drs. H. Taslim membuka secara resmi kegiatan Turnamen Vale Cup Tahun 2023 di Lapangan Mateantina Desa Kolono, Kecamatan Bungku Timur, Rabu (30/08/2023). Pembukaan resmi Vale Cup 2023 ditandai oleh tendangan

bupati-morowali-lantik-9-pejabat-pimpinan-tinggi-pratama-kabupaten-morowali

Bupati Morowali Lantik 9 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Kabupaten Morowali

Morowalikab.go.id-Bungku- Bupati Morowali Drs. Taslim Melantik dan Mengambil Sumpah Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Morowali, Acara berlangsung di Ruang Aula Kantor Bupati, Rabu (7/4). Pelantikan dan pengambila

wabup-iriane-iliyas-apresiasi-dprd-tegaskan-komitmen-perbaikan-kinerja-pemerintahan

Wabup Iriane Iliyas Apresiasi DPRD, Tegaskan Komitmen Perbaikan Kinerja Pemerintahan

Morowalikab.go.id – Bungku - Wakil Bupati Morowali, Iriane Iliyas, menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada pimpinan serta seluruh anggota DPRD Kabupaten Morowali atas dedikasi dan kerja keras selama masa persidangan II tahun sidang 202