Thursday 18 June 2020
kary kabidikp
1697
SIKAP BANAL DI RUANG PUBLIK
MENUJU FASE KENORMALAN BARU
@KaryMarjuniMarunduh
analitas adalah sesuatu yang remeh, tidak esensial namun mengambil alih segala yang penting dan bermakna. Citra banalitas adalah prosesi pembalikan kultur (cultural reversal), yaitu proses pengesensialan yang banal dan banalisasi yang esensial. Kepungan tanda dan citra yang remeh (banal) menyebabkan masyarakat kehilangan kemampuan untuk menginternalisasi makna yang dihasilkannya. Di dalam sikap banalitas, semua bisa disulap menjadi tontonan realitas yang menggemaskan. Mungkin yang banal akhirnya mereduksi yang bermakna, seperti yang ditakutkan oleh Walter Benjamin.
Menghadirkan sikap meremehkan realitas, bahkan cenderung mempercayai kesemuan informasi yang terjadi di ruang publik menjadi kontrakdiksi ketika pemerintah mempersiapkan masyarakat memasuki fase new normal (kenormalan baru) di tengah pandemic Corona Virus Disease (Covid 19). Haruslah disadari, ketika fase Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilewati, maka aktifitas ekonomi bergulir kembali di tengah interaksi sosial yang sulit terkontrol.
Memasuki fase kenormalan baru sebagai tatanan sosial baru, sangat dibutuhkan kesadaran dan kedisiplinan masyarakat ketika berada di ruang publik agar dapat menekan basic reproductive number. Produktif tapi aman dari Covid 19 merupakan dasar dalam menjalankan interaksi sosial di ruang publik masa pandemic menuju fase kenormalan baru.
Ketidakpatuhan ketika berada di ruang publik dalam hal penggunaan masker, cuci tangan, jaga jarak dan banyak lagi protokol kesehatan yang mengatur interaksi sosial di ruang publik menjadi perhatian serius saat menghentar masyarakat menuju fase kenormalan baru. Bahkan, yang serius lagi ketika dibangun asumsi jika Covid 19 itu tidak ada, sehingga ada masyarakat berpendapat ada kebohongan publik yang disampaikan pemerintah berhubungan dengan Covid 19. Haruslah disadari, kecenderungan untuk meremehkan protokol kesehatan merupakan pertanda nyata hadirnya pandemic Covid 19 fase kedua.
Sudah seharusnya fase kenormalan baru membawa masyarakat dalam sikap yang responsif bertanggung jawab. Artinya, masyarakat harus mampu melepaskan diri dalam kungkungan dan pendangkalan makna dari segala informasi yang beredar di tengah-tengah masyarakat. Responsive bertanggung jawab menghentar masyarakat memasuki fase kenormalan baru dalam tatanan kewaspadaan tinggi dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Kewaspadaan dan kepatuhan menjadi kunci sukses keberhasilan untuk keluar dan bebas dari pandemic Covid 19.
Dalam fase kenormalan baru, ruang publik sebaiknya dibanjiri oleh kesadaran kolektif untuk bersikap menjaga diri sendiri dan orang lain. Menghadirkan masyarakat yang komunikatif dalam mentransformasikan kebenaran informasi menjadi isu penting untuk menangkal informasi hoax yang bertujuan menghadirkan kegelisahan dan ketakutan selama masa pandemic Covid 19.
Untuk dapat menghindarkan masyarakat dari sikap banal ketika memasuki fase kenormalan baru, terdapat beberapa langkah penting, diantaranya:
- Pemerintah dalam kewenangan yang dimiliki harus menghadirkan kebenaran informasi kepada masyarakat, sehingga dapat mereduksi ketakutan dan kegelisahan di tengah pandemic Covid 19.
- Pemerintah harus mampu menghambat kepentingan ekonomi yang memanfaatkan situasi pandemic, sehingga masyarakat memiliki keyakinan untuk terus memproduksi optimisme sosial dalam ruang publik yang jauh dari kepalsuan.
- Inovasi kebijakan dalam penanganaan (langkah nyata) Covid 19 merupakan anti tesis dari pendangkalan ruang publik akibat informasi yang di dorong pada penciptaan ketakutan dan kegelisahan dalam masyarakat.
- Mendorong modifikasi ruang publik untuk hadirnya solidaritas sosial bagi siapa saja yang terdampak Covid 19 melalui mekanisme gerakan kolektif, sehingga masyarakat tidak merasa sendiri dalam menghadapi pandemic Covid 19.
Dalam kondisi pandemic, maka seyogyanya ruang publik hadir dalam gerakan solidaritas sosial yang kuat. Bersikap masa bodoh dan mementingkan diri sendiri di saat ini merupakan bentuk deviasi sosial. Ketika ruang publik dipenuhi dengan hal tersebut, maka ancaman serius bagi eksistensi ruang publik itu sendiri.
Mari melalui kesadaran kolektif di tengah pandemic Covid 19 kita jadikan ruang publik sebagai arena pembentukan public civility. Sikap bijak, responsif dan bertanggung jawab dari masyarakat akan membentuk watak sosial yang sangat menentukan ketenangan masyarakat untuk terhindar dari ketakutan dan kegelisahan. Melebarkan ruang publik untuk tumbuhnya solidaritas bersama melawan Covid 19 merupakan kunci sukses keluar dari pandemic Covid 19. Keberhasilan untuk menghentar masyarakat masuk ke dalam fase kenormalan baru berawal dari sikap bijak, responsif dan bertanggung jawab dalam mengisi ruang publik, bukan dengan sikap banal. (IKP-Diskominfo).-