RIBUAN UMAT MUSLIM MENGHADIRI HAUL – 49 GURU TUA DI WOSU

Wosu (morowalikab.go.id/web) – Ribuan orang umat Islam Kabupaten Morowali mamadati halaman Masjid Nurul Iman Wosu, menghadiri Haul ke-49 Pendiri Alkhairaat, Guru Tua sebutan akrab Al Habib Assayyid Idrus Bin Salim Al Jufri, Sabtu (18/07/20170).

Haul ke-49 ini dihadiri dari berbagai elemen masyarakat, antara lain Pejabat Pemda Morowali, Kementerian Agama, TNI/Polri, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Perempuan, Guru, siswa/siswa dan masyarakat lainnya. Dari Pemda Morowali, selain Bupati Morowali Drs. Anwar Hafid, M.Si., juga hadir Sekda Morowali, H. Moh. Jafar Hamid, SH, MM, Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs. Bambang S. Soerojo, M.Si., Asisten Administrasi Pembangunan dan Perekonomian, Drs. Nurullah Garusu, Asisten Administrasi Umum, Drs. Abdul Wahid Hasan, M.Pd., dan sejumlah pejabat Eselon II, III, dan IV di Lingkungan Pemda Morowali. Dari Kemeterian Agama Kabupaten Morowali, hadir Kepala Kantor Dra. Marwiah, M.Si, dan seluruh jajarannya. Sementara itu dari Forkopimda hadir Dandim 1311 Morowali, Kapoleres Morowali diwakili Wakapolres, dan Kejari Bungku.

Pada sambutan Bupati Morowali Drs. Anwar Hafid, M.Si, mengemukakan bahwa masyarakat Morowali adalah masyarakat yang cinta kepada Alkharaat, banyak masyarakat Morowali yang telah ikut memberi sumbangsi dalam pembangunan Alhairaat di Morowali. Hal ini dapat dilihat dari seluruh kebijakan pemerintah daerah selalu mendukung kegiatan ke Alkhairaatan, lanjut Bupati yang juga merupakan Ketua Komda Alkhairaat Kabupaten Morowali.

Bupati juga mengharapkan agar kepala desa yang abnaulkhairaat (keluarga besar Alkhairaat) agar menganggarkan di APBDes-nya untuk guru-guru Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Alkhairaat. Tidak ada salahnya kepala desa menggangarkan program-program Guru Tua, karena Guru Tua di samping tokoh agama juga merupakan Pahlawan Nasional, ungkap Bupati mendorong kepala desa.

Sementara itu Ketua Umum Alkhairaat, Habib Ali Bin Muhammad Bin Salim Aldjufrie, MA. Dalam tauzianya mengingatkan pentingnya persatuan. Dari masyarakat lapisan atas sampai lapisan bawah harus bersatu, pesan Habib. Berbeda pendapat boleh tetapi tidak menjadikan kita berpecah belah sebagaimana sapu tidak sama panjang dan besarnya, tetapi tetap mereka melakukan tugas dengan baik, Habib memberi perumpamaan. Habib Ali juga mengingatkan bahwa suatu daerah kalau mau maju harus bersatu dalam perbedaan. Walua kita berbeda harus bisa bersatu karana satu tujuan dan tujuan itulah yang membuat kita bersatu, lanjut Habib mengingatkan.

Diakhir tauzianya, Ketua Umum Alkhairaat yang juga merupakan Cucu Guru Tua, menasehati jamaah Haul untuk tidak menginggalkan sembahyang, karena sembahyang merupakan mata rantai kita dengan Nabi atau ada kaitan kita dengan Nabi. Karena Nabi sabdakan bahwa shalat kamu sebangaimana kamu lihat aku shalat, ucap Ketua MUI Provinsi Sulawesi Tengah ini. Shalat juga merupakan amalan dirumah dilihat oleh anak-anak sebelum dipelajari, pesan Habib. Mari kita beramal dengan baik dan Allah akan membagikan kita yang baik, sebagimana bumi yang kita berbakti dan berbudi kepadanya bisa memberi kepada kita lebih dari apa yang kita berikan, ajak Habib menutup tauzianya. (NA)

BUPATI MOROWALI HADIRI HALAL BI HALAL DI KEC. BUNGKU SELATAN

KOMINFO MOROWALI – Halal bi halal merupakan acara yang biasa dikakukan sebagai bentuk ikatan tali silaturahmi ketika berakhirnya bulan suci ramdhan.
Halal bi halal yang dilaksanakan WlA dan masyarakat kaleroang dan dihadiri para pejabat di lingkup pemda morowali dan Kepala Desa se Kecamatan Bungku Selatan.(7-7-2017)
Bupati Morowali Drs. H. Anwar Hafid M.Si. memberikan hikma dari halal bi halal mengigatkan betapa penting menjaga silaturahmi antara sesama.
Bupati juga menyampaikan agar tidak bercerai berai, Allah SWT berfirman “sayangi yang di bumi maka yang dilangit akan menyayangimu.” artinya semua yang terjadi disekitar kita adalah kehendak Allah SWT. Kalau kita mau di tolong oleh Allah maka perbanyak silaturahmi, ciri ciri orang yang beriman adalah orang yang menjaga tali silaturahmi. Orang yang selalu menjaga silaturahmi hidupnya tidak akan sengsara dalam hidupnya, begitu juga Rezki yang tidak disangka-sangka begitu banyak manfaat kita dalam menjaga silaturahmi antara sesama manusia,
Di akhir ceramah bupati berpesan bahwa melalui halal bi halal ini mari kita saling maaf memaafkan hilangkan rasa dengki kebencian dihati kita, maka dari itu agar kita terhindar dari dosa. (ik)

BUPATI MOROWALI SEBAGAI KHOTIB PADA PELAKSANAAN HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H/2017 M

KOMINFO MOROWALI – Kalimat takbir dan tahmid menggemah di Lapangan Sepak Bola, Kel. Marsaoleh, Bungku, Ibu Kota Kabupaten Morowali, Minggu (25/06/2017) pagi. Ribuan umat muslim di Ibu kota Kabupaten Morowali  dan sekitarnya berduyun-duyun memadati areal lapangan yang telah dipersiapkan oleh Penitia Hari-hari Besar Agama Islam (PHBI) Kabupaten Morowali untuk menunaikan Shalat Idul Fitri, 1 Shawal 1438 H.

Bertindak sebagai imam pada pelaksanaan Shalat Idul Fitri adalah Ustdatz Sudarmin Hadadi, S.Pd.I. (Majeis Ulama Indonesia Kab. Morowai)), sedangkan sebagai Khotib adalah Drs. H. Anwar Hafid, M.Si. (Bupati Morowali).

Pada kesempatan ini, setelah memuji keesaan, kebesaran serta keagungan Allah Swt. khotib mengajak seluruh jama’ah idul fitri sebagai generasi rabbaniah untuk tumbuh mekar di bumi Morowali, yaitu generasi yang memiliki semangat ibadah yang sengat luar biasa.

“Wahai generasi rabbania dengan semangat insania, anda harus tumbuh mekar di bumi Morowali ini yaitu generasi yang memiliki etos kerja biasa-biasa saja tetapi memiliki semangat ibadah yang sangat luar biasa”, ajak khotib.

“Generasi yang tidak hanya mencari enaknya hidup tetapi selalu mencari enaknya disaat mati, generasi yang menjadikan shalat subuh menjadi pagi yang teduh, pribadi yang tidak angkuh, keluarga yang tidak keruh, maka nantikanlah kedamaian pasti berlabuh”, lanjut khotib.

Lebih lanjut Bupati selaku khotib mengajak jama’ah untuk mengambil pelajaran dari perjuangan Guru Tua dalam membangun lembaga Alkhairaat. Menurut khotib bahwa Guru Tua ingin mengajarkan kepada kita bahwa berdagang adalah bekerja dan membagi-bagikan hasil dagangan kepada guru-guru agama adalah ibadah yang luar biasa. Hal ini terlihat jelas semangat rabbaniah dan insaniah yang dimiliki Guru Tua sebagai pekerja yang biasa tetapi memiliki sengat ibadah yang luar biasa, lanjut khotib.

Selanjutnya khotib mengajak untuk melihat karakter muliah seoarang ayah, berjibaku di bawah terik matahari yang menyengat untuk menghidupi anak istrinya, namun kebanyakan seorang anak kurang memahaminya. Olehnya itu, di atas mimbar khutbah yang agung, khotib mengingatkan kepada jema’ah khusus para istri, jika anak bertanya tentang ayahnya, agar mencerita dengan sejujur-jujurnya, “bahwa ayahmu itu tidak makan sebelum orang di rumah semua makan, ayahmu itu tidak akan pulang kerumah sebelum ada sesuatu yang dibawah pulang untuk orang di rumah, ayah itu tidak memperdulikan tulangnya yang terbungkus oleh kulit sekali pun pekerjaan tersebut sangat berat baginya, ayahmu itu tidak akan tidur nyanyak kalau diantara kita ada yang sakit, ayahmu itu berjibaku mencari rezki dibawah terik panas matahari tampa berkelukesah, ayahmu itu nak, ketika ibu kamu menginginkan sesuatu maka ayahmu selalu mengatakan ‘ada’ sekalipun belum ada, ayahmu itu pejuang nak, seoarang pahlawan nak dan hanya tercatak dan tertulis dengan tintah darah dalam hati ibumu, kelak nanti kalau engkau besar, engkau mendapati ayahmu baru pulang kerja, maka ambil tepalak tangannya, cium dan usaplah, karena tangannya adalah jembatan menuju surgamu nak.” Ucap khotib.

Selanjutnya khotib juga mengajak jama’ah untuk berbuat baik sebanyak banyaknya melebihi umur yang kita punya, seperti sosok seorang ibu. Memurut khotib bahwa sosok seorang ibu yang maha dasyat kasih sayangnya, karena terlalu banyak mereka berikan untuk kita terlalu banyak kesedihan mereka alami saat melahirkan dan membesarkan kita, terlalu banyak waktu mereka habis untuk kehidupan kita, terlalu banyak sakit yang mereka rasakan saat kita tumbuh menjadi manusia, teralalu banyak penyakit mereka sembunyikan, mereka tidak mau mengatakannya hanya karena tidak mau menambah beban kita. Tapi setelah kita sempurna menjadi manusia, terlalu sedikit yang kita berikan untuk mereka, terlalu sedikit air mata kita tertetes untuk melanyani dan mengurus mereka, terlalu sedikit waktu yang kita siapkan untuk mereka, terlalu sedikit sakit yang kita rasakan saat mereka berada dipenghujun kehidupan mereka, lanjut khotib. “Kita bahkan bahkan tega membuat air mata mereka tumpah ruah di tengah malam hari, saat kita tertidur pulas, meraka bangun dan mengadu ke Sang Khaliq seraya mereka berkata ‘yaa Allah, ambil nyawaku, ambil yaa Allah, hamba takut terlalu lama hidup, akan terlalu banyak dosa yang anak lakukan. Subhanallah dia ibu yang ketika melahirkan kita, nyawanya menjadi taruhan dan siap mati untuk keseamatan kita, dialah jelmaan cintah kasih sayang Allah sejati yang terpatri dalam dasar kalbunya yang paling dalam. Oleh karena itu, ibu adalah wakil tuhan didunia sebagaimana sabda rasullallah ‘surga berada di bawah telapak kaki ibu’”. tambah khotib.

Diakhir khotbanya, khotib memohon kepada Allah Swt agar menghujani disetiap sanubari penduduk Morowali untuk selalu memancarkan dan mencintai masjid, untuk selalu mencintai Al-quran, untuk selalu banyak berdoa kepada Allah Swt, untuk selalu banyak bersedekah kepada sesama manusia, untuk selalu berbagi dalam kelebihan, dan berpegang tenguh dalam perseudaraan. Khotib juga berdoa kepada Allah agar membentangkanlah cahaya rahmat dan karunia Allah Swt untuk menyinari Morowali sebagai negeri yang beremartabat, berwibawa, beretika dalam bersemangat kehidupan beragama dan berbangsa. Terakhir, khotib memohon agar melindungi para pemimpin negeri Morowali dari konspirasi, iblis, jin dan manusia, sehingga Morowali terhindar dari amarah Allah, yang memporak-porandakan negeri ini. Serta memohon ampun kepada Allah Swt dan menerimah persembahan gemah Morowali bertakbir hari ini, semoga para malaikat membentangkan sayap keperkasaannya menaungi Morowali yang kita cintai ini, tutup khotib. (NA)

TIM SAFARI RAMADHAN KABUPATEN MOROWALI DI DESA SAKITA

TIM SAFARI RAMADHAN KABUPATEN MOROWALI DI SAKITA

KOMINFO MOROWALI-Tim Safarai Ramadhan 1438 H / 2017 M Kabupaten Morowali, Minggu, 4/06/2017.
Dalam safari Ramadhan Pemda Morowali yang di pimpin oleh Bupati Drs. H. Anwar Hafid, M.Si. dipusatkan di masjid Desa Sakita Kecamatan Bungku Tengah.
Dihadiri oleh beberapa pejabat Pemda Morowali hadir mendampigi bupati Morowali dalam safari Ramadhan, dan masyarakat yang hadir mengikuti shalat isya dan tarwih secara berjamaah.
Bupati Morowali menyampaikan bahwa safari Ramadhan merupakan agenda rutin Pemerintah Daerah di setiap bulan suci Ramadhan juga merupakan sebagai upaya pendekataan Pemerintah kepada masyarakat.
Sementara itu dalam ceramahnya menyampaikan kepada masyarakat terutama kepada kepala desa beliau mempunyai gagasan atau Ide untuk menjadikan desa sakita shalat subuh secara berjamaah yang di cantumkan dalam perdes (peraturan desa) agar supaya shalat berjamaah ini bisa terjaga, kalau shalat subuh bisa terjaga secara berjamaah itu artinya shalat lainnya juga bisa dilakukan secara berjamaah pula. Menurut Bupati bahwa shalat yang paling berat adalah shalat subuh. Untuk itu agar di musyawarakan terlebih duhulu hingga menjadi perdes, tutur beliau memberi gagasan.
Selanjutnya beliau mengajak kepada jamaah shalat tarwih agar di bulan suci ramadhan ini harus banyak membaca Al-qur’an. Karena nanti pada hari kiamat, Allah subbahahuu wata’ala akan menjadikan pahala membaca Al-gur’an sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, memberikan syafa’at dengan seizing Allah kepada orang yang rajin membacanya, menurutnya.
Beliau juga mengajak para jamah untuk memperbanyak berdoa, khususnya waktu berbuka puasa, karena merupakan waktu yang penuh keberkahan, dan di waktu ini manusia merasakan salah satu kebahagaian ibadah puasa. Lebih lanjut dikatakan bahwa bersedekah merupakan salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntugan besar dari bulan Ramadhan dan sebab sedekah dosa dapat diampuni.
Diakhir ceramah beliau mengigatkan kepada jamaah, agar iqtikaf sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yang sangat istimewa dan Nabi Muhammad SAW menghabiskan waktu dalam ibadah. Karena biasanya terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia daripada seribu bulan, bupati menutup.(iksan kominfo)